Laskar Menyerang Bersenjata Sapu, Cikrak, dan Sulak
Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Al Uswah menyelenggarakan ”pondok Ramadan” dengan aroma berbeda. Mereka meracik pendidikan religius dengan semangat sosial. Salah satunya lewat serangan fajar.
ASTANTO AL BUDIMAN
MATAHARI belum muncul penuh. Udara Surabaya masih terasa segar. Meski jam masih menunjuk pukul 05.00, sebanyak 60 siswa SDIT Al Uswah tak mau meringkuk di balik selimut. Kemarin pagi (19/9), mereka sudah bersiap-siap melakukan serangan fajar.
Jangan salah, aksi heroik itu tak diwarnai saling serang, apalagi pertumpahan darah. Serangan fajar ala SDIT Al Uswah justru terkesan santun dan bermisi sosial.
Senjata para laskar yang dikelompokkan dalam 12 batalyon pun khas. Di antaranya, sapu lidi, ember, sapu ijuk, cikrak, sulak, kain pel, hingga aneka kain pembersih.
”Senjata” itu pun tak dibawa begitu saja. Beberapa peralatan diikat menjadi satu, lalu talinya dibentuk sedemikian rupa, sehingga bisa dibawa di punggung seperti tas ransel. Sebagian siswa juga menali sapu, sehingga mirip senapan laras panjang.
Sebelum menyerang, para laskar tersebut berbaris mendengarkan pengarahan. ”Panglima” serangan yang memberikan pengarahan pagi itu adalah Ketua Panitia Serangan Fajar Ramadan SDIT Al Uswah Bagus Subuh Hadi.
Materi pengarahan pun khas untuk serangan fajar tersebut. Para laskar diberi arahan dan nasihat tentang adab atau tata cara bertamu yang baik dan sopan. Siswa diminta mengetuk pintu, memberi salam, memperkenalkan diri, dan menanyakan kepada pemilik rumah apa yang bisa dibantu oleh mereka.
Setelah pengarahan, serangan fajar SDIT Al Uswah dimulai pukul 05.30. Masing-masing batalyon tersebut berbondong-bondong dan berlari menuju rumah penduduk sekitar sekolah. ”Untuk rumahnya, kami acak. Sedangkan pemilik rumah, kami beri tahu sehari sebelumnya,” kata Bagus.
Satu batalyon didampingi satu pengawas. Selain mengawasi, pengawas melihat tata cara bertamu masing-masing batalyon. Mereka juga menilai para prajurit dalam membersihkan rumah tersebut. Karena itu, pengawas membawa formulir penilaian.
Salah satu batalyon bernama Hafshoh. Anggotanya adalah Shobrina, Mufidah B.E., Sarah Qonita, dan Septi. Mereka bertugas ”menyerang” rumah Ny Widuri. Mereka hanya diberi alamat dan nama pemilik rumah. ”Untuk lokasi rumah, prajurit dapat bertanya kepada penduduk sekitar,” ujar Bagus.
Setelah bertanya kepada salah seorang penduduk, batalyon itu sampai di rumah sasaran di Jalan Kejawan Gebang Gang III. ”Assalamu ‘alaikum… Kami berlima dari SDIT Al Uswah ingin membantu Bapak dan Ibu membersihkan rumah. Apa yang bisa saya bantu, Bapak-Ibu?” ucap Shobrina dan teman-teman prajuritnya.
Setelah itu, lima prajurit tersebut melancarkan serangan. Sebelum membersihkan rumah, Shobrina memberikan sebuah amplop berisi formulir penilaian kepada Ny Widuri. Sebab, pemilik rumah juga harus menilai.
Masing-masing prajurit lantas mengambil peran. Shobrina mengambil sapu lantai, Mufidah sulak, Sarah sapu lidi, Septi mengambil lap kain, dan Qonita mengambil ember air.
Laskar cilik tersebut lalu membersihkan lantai rumah, halaman rumah, jendela, kaca rumah, dan kursi serta meja di ruang tamu. Ny Widuri pun tersenyum melihat aktivitas para prajurit tersebut.
Memang, terlihat beda antara siswa-siswa yang sering atau bisa membersihkan rumah dengan yang tidak pernah membersihkan rumah. Dalam menyapu saja, siswa-siswa tersebut terlihat masih kaku dan belum terlatih dalam mengarahkan atau mengumpulkan sampah yang kemudian diarahkan ke cikrak.
Saat bersih-bersih itu berlangsung, pengawas tidak boleh membantu tugas-tugas prajurit. Prajurit dituntut berani dan melakukan tugasnya dengan baik. ”Adab bertamu seperti bersalam, meminta izin, dan membersihkan rumah, semua dilakukan prajurit itu,” tegas Bagus.
Hanya, bila prajurit melakukan kesalahan, pengawas bisa segera mengarahkan prajurit itu. Termasuk, memberi peringatan hati-hati bila prajurit mendekati benda-benda pemilik rumah yang mudah pecah.
Menurut Bagus, penilaian serangan fajar yang utama adalah siswa harus membersihkan bagian rumah seperti menyapu lantai, menyapu halaman, membersihkan pintu dan jendela, membuang sampah, serta menyiram tanaman.
Untuk nilai tambahannya, siswa-siswa bisa membersihkan ruangan lainnya. Terdapat satu kelompok yang merapikan tempat tidur warga. Tentu, prajurit-prajurit itu harus meminta izin lebih dulu kepada pemilik rumah. ”Semua sudah kami beri pengarahan,” ujarnya.
Serangan fajar Ramadan tersebut merupakan rangkaian dari Ramadan Camp Al Uswah yang diadakan pada 18-19 September kemarin. Pesertanya 108 orang. Sebanyak 60 orang di antaranya (kelas 4-6) ikut serangan fajar. Selain serangan fajar, terdapat kegiatan, antara lain, pemilihan dai cilik (pildacil), berbagi rezeki dengan yang membutuhkan, dan jerit malam.
Pada malam sebelumnya, panitia juga membuat acara menarik. Yaitu, acara jerit malam. Dalam acara yang diadakan pukul 01.30 tersebut, siswa-siswa diajak berjalan dengan mata ditutup ke kuburan di belakang sekolah.
Di samping-samping kuburan itu, anak-anak diberi materi tentang siksa kubur. Misalnya, bagaimana ketika berada di kubur atau ketika bertemu malaikat. Selain itu, siswa-siswa diberi nasihat tentang pentingnya berbuat baik dan berbakti kepada orang tua. (*/dos)



